Wisata Nusantara Indonesia - Rupa-rupa: Kliping Berita
Menjaga Kelestarian Wisata Nusantara Indonesia dari Sabang sampai Merauke
   
 
Kliping Berita
   
 
 
 
[ Kliping Berita ]
 
[ Judul Kliping /Sumber ]
[ Tukang Klip ]
Klaten berupaya menjadi bukan sekedar tempat mampir. /Solopos, 12.01.2001
Gandung
Klaten berupaya menjadi bukan sekedar tempat mampir.
 
Barangkali, julukan gemah ripah loh jinawi memang pas apabila dialamatkan kepada Kabupaten Klaten, selain karena terkenal sebagai penghasil beras bermutu, di bidang pariwisata wilayah ini juga dikaruniai dengan seabrek objek pemikat.

Di daerah Tingkat (Dati) II yang saat ini dipimpin oleh Bupati Haryanto tersebut antaralain terdapat beragam objek wisata mulai dari wisata alam, peninggalan sejarah budaya kerajaan berupa candi-candi, mata air (umbul) yang kemudian berfungsi sebagai objek pemandian, makam-makam tokoh jaman dulu yang oleh Dinas Pariwisata (Diparta) setempat disebut sebagai objek wisata spiritual/rohani, museum gula serta upacara-upacara tradisional masyarakat tahunan.

 
Maka wajar saja kalau daerah tersebut kemudian menaruh harapan besar ke dunia pariwisata memasuki era baru ini, era otonomi daerah (otda). Hanya ada satu hal yang hingga saat ini masih sangat disayangkan oleh pihak Diparta setempat, bahwa kekayaan objek yang dimiliki itu masih belum begitu kuat menjadi potensi kepariwisataan modern.

"Karena ya masih bersifat wisata kunjungan yang insidentil. Kalau di depan kami mempunyai arahan agar potensi-potensi wisata yang ada di daerah Klaten ini bisa menjadi tujuan wisata atau destination of tourism bukan hanya sebagai daerah singgah saja," jelas Kepala Diparta (Kadiparta) Klaten Hadi Purnomo.

 
Dijelaskan oleh Kadiparta ini, logika pengembangan akhir dunia kepariwisataan daerah yang ditanganinya didasarkan letak geografis Klaten yang tepat diantara dua kota tujuan wisata yakni DI Yogyakarta dan Solo.

Kesempatan untuk mengoptimalkan objek memang sangat diharapkan pejabat yang baru menduduki pos sebagai Kadiparta Klaten sejak pertengahan tahun 2000 lalu ini, seiring pemberlakuan Otda. Artinya, ada kelemahan mendasar yang penting segera dibenahi secara kelembagaan sehingga masing-masing dinas termasuk Diparta sendiri mempunyai peluang memberdayakan diri serta daerahnya.

 
Menurut pria yang sebelumnya menjabat sebagai Camat Delanggu ini, relevansi otonomi daerah bagi dirinya sama dengan kompetisi kepariwisataan antar daerah. "Saya berpendapat, otonomi daerah berarti persaingan. Dalam kepariwisataan bentuk riilnya bagaimana kita bisa menarik invetor dan menyedot wisatawan mancanegara dan nusantara, serta terakhir meberikan konstribusi dana bagi Kabupaten Klaten," tandas Hadi.

 
Prioritas Rawa Jombor

Dan dalam rangka mengantisipasi bakal semakin sengitnya persaingan tiu, Diparta Klaten kini mulai pasang kuda-kuda dengan merancang berbagai rencana, yang diantaranya bakal memaksimalkan dua objek yang selama ini telah menjadi primadona, masing-masing Rawa Jombor dan Makam Ki Ageng Pandanaran.

Julukan primadona itu tidak mengada-ada kalau menilik pengakuan dari Hadi bahwa dari kedua objek itu saja pihaknya mampu menuai pemasukan sebesar 56 juta.

 
Sementara itu secara keseluruhan realisasi pendapatan sektor pariwisata untuk tahun 2000 (terhitung April-Desember) adalah Rp. 80.674.400, yang berarti pula melebihi target yang digasriskan sebesar Rp. 78.905.000 atau naik 102,24%. Angka tersebut, terang dia minus pemasukan dari Pekan Swalayan Jimbung yang potensial menyumbang Rp. 30.250.000.

Menyadari akan potensi itulah, Kadiparta telah berbincang-bincang untuk mengemas dua objek wisata yakni Rawa Jombor dan Makam Ki Ageng Pandanarang menjadi satu paket. Pertimbangannya, menurut Kadiparta selain potensial menyumbangkan pendapatan, kedua objek wisata itu letaknya saling berdekatan yakni di Kecamatan Bayat.

 
"Ke depan, orang itu akan back to nature. Mereka akan mencari ketenangan dan kedamaian. Dan salah satu tempat yang menjadi pilihan adalah makam. Karenanya diharapkan setelah pengunjung itu berziarah ke Makam Ki Ageng Pandanarang maka perjalanan bisa dilanjutkan ke warung apung Rawa jombor. Ya, sembari menikmati pemandangan alam juga bisa lunch atau dinner, jadi bisa dikatakan side-seeing."

Sebagai langkah awal Diparta akan mengusulkan untuk dibentuk tim otoritas Jombor yang kelak berfungsi sepenuhnya dalam menangani seluruh persoalan di kawasan itu. "Anggotanya nanti lintas sektoral. Ya, bisa dari instansi terkait semisal DPU, DKP, Bagian Penyusunan Program, Industri, Koperasi dan PKM, Perhubungan, Perikanan, serta Pariwisata. Tapi ketua-nya bukan dari Diparta," kilahnya tanpa memberi alasan.

 
Namun dia menegaskan untuk mewujudkan cita-cita itu, maka lebih dahulu harus diikuti dengan pembenahan sarana maupun prasarana.

"Dalam waktu dekat kita akan mengajukan proposal perbaikan jalan lingkar menuju objek wisata tersebut. Sesuai rencana proyek yang menelan biaya Rp. 150 juta itu akan dimulai dari titik pertama yakni pertigaan dekat Stasiun KA Klaten-Rawa Jombor-Makam Ki Ageng Pandanarang."

 
Memang jika berbicara idealnya, kata Kadiparta bukan hanya fasilitas perhubungan saja yang harus dibenahi, tetapi termasuk pula penerangan, komunikasi, atau sanitasi kesehatan seperti air bersih. Diingatkan juga bahwa membangun pariwisata itu ibaratnya menanam benih yang menuainya di kemudian hari."

Jadi semuanya butuh proses. Tidak serta merta langsung bisa dinikmati hasilnya dalam sekejap. st27/st24 [ Tukang Klip: Gandung ]
 


 

Wisata Nusantara Indonesia . Kinarya KorespondenWisata . Produksi 2000-2001 .
Alamat homepage ini adalah: http://wisata.freehosting.net .
Informasi: info@wisata.freehosting.net . Webmaster: webmaster@wisata.freehosting.net .